Teknologi Deteksi TB secara Cepat dan Akurat, Kunci Indonesia Bebas Tuberkulosis

Suatu sore, saya membaca status salah seorang teman di media sosial. Dia bercerita bahwa saudaranya baru saja didiagnosa TB. Teman saya kesal karena diagnosa TB baru tegak setelah konsultasi ke rumah sakit. Sementara hampir 6 bulan sebelumnya, berkali-kali periksa ke puskesmas dan hanya diresepkan obat batuk dan obat alergi. Tanpa rujukan, tanpa saran pemeriksaan penunjang, karena dokter puskesmas mendiagnosa pasien terkena bronkitis.

Saat tak kunjung sembuh, barulah pasien memeriksakan diri ke rumah sakit, dan keluarga pasien terkejut dengan hasilnya, positif TB. Jujur, saya cukup kaget saat membaca status tersebut. Apa benar gejala TB terlewatkan oleh dokter? Atau jangan-jangan TB nya baru kena belakangan?

Lalu bagaimana bila sejak awal pemeriksaan di puskesmas, pasien memang sudah mengidap TB? Padahal diagnosa yang tidak tepat dapat menyebabkan terjadinya penundaan pengobatan. Bahkan sedihnya, entah berapa orang yang sudah tertular TB akibat pasien batuk sembarangan.

Kecepatan dan keakuratan diagnosa TB memang masih menjadi kendala. Menurut data, kondisi TB di Indonesia adalah TB laten, artinya bisa tidak bergejala. Padahal untuk rujukan tes BTA (Bakteri Tahan Asam), dokter terlebih dahulu melihat tanda klinis pasien.

Oleh karena itu, teknologi untuk deteksi TB secara cepat dan akurat, sangat dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia. Apakah ada teknologi yang bisa menjadi solusi kendala di atas?

Tentu ada!

Epidemiologi TB Global

TB di indonesia

Fakta mengejutkan, Indonesia menjadi negara kedua dengan kasus Tuberkulosis (TB) terbanyak. TB menjadi salah satu dari 10 penyebab kematian utama di dunia. Pada tahun 2016, 10,4 juta terdiagnosa TB dan 1,7 juta meninggal dunia akibat penyakit ini, yang artinya hampir 5000 pasien meninggal setiap harinya (termasuk 0,4 juta pasien TB dengan HIV). Hampir 95% kematian akibat TB berasal dari negara dengan ekonomi rendah hingga menengah.

Dari 10,4 juta, 90% nya adalah orang dewasa, 65% berjenis kelamin laki-laki, 10% nya adalah pasien dengan HIV (dimana 74% tinggal di Afrika), dan 56% nya tinggal di lima negara lainnya yaitu India di peringkat pertama. Diikuti oleh Indonesia di peringkat kedua. Cina di peringkat ketiga, lalu Filipina, Pakistan, dan Nigeria. Afrika Selatan sendiri berada pada urutan ke-7.

TB adalah pembunuh utama pada pasien dengan HIV. Pada tahun 2016, 40% kematian pada orang dengan HIV adalah karena TB. Lebih lanjut, MDR TB (Multidrug resistant TB) menjadi tantangan terberat di dunia kesehatan. WHO mengestimasi ada 600 ribu kasus baru yaitu resistensi terhadap rifampisin, dimana 490 ribunya mengalami MDR- TB (Multidrug Resistant TB). Padahal rifampisin adalah obat paling efektif pada lini pertama pengobatan TB.

Dengan berbagai fakta di atas, berakhirnya epidemik TB di tahun 2030 menjadi target kesehatan pada Sustainable Development Goals.

Kalau bicara tentang rentang usia berapa yang paling berisiko? Ternyata semua usia berisiko. Belum lagi jika pasien juga terinfeksi HIV atau memiliki komplikasi penyakit yang berkaitan dengan sistem imun. Saya jadi ingat seorang teman yang akhirnya meninggal dunia karena TB. Selain karena dia alergi terhadap rifampisin, dia juga harus berjuang melawan ITP. Pada akhirnya, tubuhnya tidak kuat melawan kuman TB. Peningkatan risiko juga terjadi pada orang yang merokok. 8% kasus TB di dunia terkait dengan rokok.

Bagaimana dengan anak-anak? Berdasarkan data dari WHO, sebanyak 1 juta anak pada usia 0-14 tahun, mengalami sakit akibat TB. 250 ribu diantaranya (termasuk anak dengan HIV) meninggal dunia di tahun 2016.

Terus terang, anak pertama saya pernah didiagnosa TB saat usianya 9 bulan. Meskipun sampai saat ini saya tidak tahu penyakit tersebut tertular dari mana, karena orang dewasa yang dekat tidak ada yang menunjukkan gejala-gejala TB. Ketika diagnosis sudah tegak, anak saya minum obat selama 6 bulan lamanya. Sungguh, bukan waktu yang sebentar bagi dia dan kami orangtuanya.

Epidemiologi dan Prevalensi di Indonesia

Pada tahun 2015, insiden kasus baru TB paru di Indonesia adalah 395 per 100 ribu populasi (termasuk pasien TB dengan HIV). Insiden meningkat seiring dengan bertambahnya usia, yaitu 65-74 tahun dengan angka morbiditas tertinggi, diikuti dengan usia > 75 tahun pada peringkat kedua. Untuk jenis kelamin, laki-laki lebih banyak menderita TB dibanding perempuan.

Berdasar Riskesdas tahun 2013, prevalensi TB tertinggi diderita oleh pasien tanpa pekerjaan, diikuti oleh pegawai. Begitu juga dengan tingkat Pendidikan, dimana tingkat Pendidikan yang rendah (tidak bersekolah) menduduki angka morbiditas tertinggi.

Kasus MDR-TB di Indonesia mengalami peningkatan pada tahun 2015 yaitu terduga TB sebanyak 15.300 orang, terkonfirmasi TB sebesar 1860 pasien, dan diobati sebanyak 1566 pasien. Angka yang cukup mencengangkan bukan?

Untuk mortalitas atau angka kematian akibat TB mencapai 40 per 100 ribu populasi. Sementara keberhasilan terapi pada pasien TB baru adalah 84% (pasien terdaftar pada tahun 2014).

Penyebab TB

bakteri TB

TB disebabkan oleh bakteri yaitu Mycobacterium tuberculosis yang biasanya menyerang paru-paru. TB sangat mudah menular, yaitu dari orang ke orang melalui udara. Ketika penderita TB batuk, bersin, atau meludah, mereka menyebarkan kuman TB ke udara. Hanya dengan menghirup sedikit saja kuman TB, seseorang sudah terinfeksi TB.

Berdasarkan data, hampir seperempat populasi dunia mengalami TB laten. Apa maksudnya? TB laten berarti terinfeksi bakteri TB, tetapi belum mengalami sakit dan tidak bisa menularkan penyakitnya. Yang mengerikan adalah ketika bakteri berkembang menjadi TB aktif, maka gejala-gejala (seperti batuk, demam, berkeringat di malam hari, dan penurunan berat badan) bisa saja bersifat ringan selama beberapa bulan. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya keterlambatan diagnosa sehingga bakteri pun sudah tersebar ke orang lain. Mungkin inilah jawaban dari keterlambatan diagnosa yang dialami oleh saudara teman media sosial saya.

tuberkulosis

Padahal, satu orang dengan TB aktif bisa menularkan penyakitnya ke 10 sampai 15 orang lainnya. Jadi bayangkan berapa orang yang tertular kalau keterlambatan diagnosa terjadi pada banyak orang?

Sebagian besar kematian akibat TB dapat dicegah dengan diagnosa dini dan pengobatan yang tepat. Setiap tahunnya, jutaan orang sebenarnya sudah terdiagnosa dan berhasil sembuh (53 juta pasien pada tahun 2000-2016). Meski demikian, masih ada gap antara deteksi dan pengobatan TB.

Sebagai informasi, pada tahun 2016, jumlah kasus TB baru muncul di Asia, yaitu sebanyak 45%. Diikuti oleh Afrika sebesar 25%. Tujuh negara tertinggi dengan kasus TB menjadi prioritas utama dalam eliminasi TB. Kemajuan global terhadap eradikasi TB tergantung dari peningkatan pencegahan dan pengobatan penyakit TB pada negara-negara tadi. Oleh karena itu, sangat penting bagi Indonesia menjadikan TB sebagai prioritas di bidang kesehatan.

Gejala dan Diagnosa TB

Seperti sudah saya tulis di atas, gejala umum dari TB paru aktif adalah batuk berdahak dan berdarah, nyeri dada, kelemahan, penurunan berat badan, demam dan berkeringat di malam hari. Sayangnya, banyak negara (termasuk Indonesia) yang masih menggunakan metode lama bernama tes dahak secara mikroskopis (tes BTA) untuk mendiagnosa TB. Dalam cara ini, seorang teknisi laboratorium yang terlatih melihat sampel dahak di bawah mikroskop sehingga dapat diketahui apakah ada bakteri TB atau tidak. Padahal, ternyata mikroskop hanya berhasil mendeteksi setengah dari jumlah kasus TB, dan bahkan tidak dapat mendeteksi kasus resistensi obat pada pasien TB.

Teknologi Deteksi TB Secara Cepat

Pada tahun 2010, WHO merekomendasikan penggunaan rapid test Xpert MTB/RIF ®. Tes ini dapat mendeteksi kuman TB sekaligus resistensi terhadap rifampisin. Diagnosa hanya membutuhkan waktu 2 jam. Oleh karena itu, tes ini direkomendasikan oleh WHO sebagai diagnosa awal terhadap semua orang dengan tanda dan gejala TB. Pada tahun 2016, lebih dari 100 negara yang menggunakan alat ini, dan sebanyak 6,9 juta kartrid diperoleh secara global. Bagaimana dengan Indonesia? Mengapa tes BTA masih menjadi tes diagnosa utama di Indonesia?

Tak hanya Xpert MTB/RIF ® saja yang disarankan oleh WHO. Pada tahun 2016, WHO merekomendasikan 4 tes diagnostik lainnya, yaitu tes molekular cepat untuk mendeteksi TB pada pusat kesehatan peripheral (dimana Xpert MTB/RIF ® tidak dapat digunakan), dan 3 tes lainnya yang dapat mendeteksi resistensi terhadap obat TB lini pertama dan lini kedua. Tentu saja hal tersebut adalah angin segar bagi diagnosa MDR-TB dan pasien TB dengan HIV yang lebih kompleks dan berbiaya mahal. Sama halnya dengan diagnosa TB pada anak yang lebih sulit, Xpert MTB/RIF ®biasanya digunakan untuk membantu diagnosa TB pada anak. Sementara di Indonesia, Mantoux tes, rontgen paru dan total skoring gejala masih menjadi cara diagnosa utama.

Teknologi Screening Terbaru di Dunia

Berdasarkan penelusuran saya, salah satu rapid test yang disupport oleh WHO adalah rapid biosensor TB Breathalyser. Teknologi RBS (Rapid Biosensor System) dikembangkan di Cambridge, UK. TB Breathalyser bersifat non invasif dengan cara yang simpel (tes pernapasan), dapat dirakit tanpa memerlukan kondisi ruangan yang bersih, dan dapat digunakan oleh personel non medis. Teknologi ini diklaim sangat cocok untuk dipakai pada negara-negara berkembang, karena biaya skriningnya murah.

Bila kita menilik lagi lebih dalam, memang seharusnya diagnosa TB yang efektif bersifat cepat dan akurat. Terlebih pada negara berkembang, seharusnya deteksi TB berbiaya murah dan dapat dilakukan oleh personel dengan pelatihan minimal. Sayangnya, tes Mantoux tidak memenuhi syarat ini. Saya masih ingat ketika anak saya harus melakukan tes ini. Seorang perawat menyuntikkan cairan (tuberculin) di bawah kulit pada lengan anak saya. Hasilnya baru dapat dilihat setelah 48-72 jam. Ya, selama itu, karena reaksinya (indurasi/bengkak pada tempat injeksi dengan diameter tertentu) baru muncul setelah hampir 3 hari. Ukuran diameter inilah (6-10 mm) yang menjadi dasar bahwa pasien terinfeksi TB. Tetapi sebenarnya, faktor lain seperti kesehatan dan umur pasien juga harus dipertimbangkan. Hasil interpretasi menjadi subjektif terhadap tes.

Tes Mantoux diketahui mempunyai spesifisitas 10% dan sensitivitas mencapai 85%. Padahal guideline WHO untuk screening TB adalah 60% hingga 95%. Sedangkan tes BTA membutuhkan 3 kali pemeriksaan, dimana dahak diambil selama tiga hari berturut-turut. Selain kendala pada pemeriksaan yang cukup lama, tes dahak (uji BTA) hanya memiliki kepekaan sekitar 60%.

Sementara itu, TB Breathalyser menggunakan metode pengumpulan aerosol (yaitu batuk), yang dikombinasikan dengan sistem immunoassay dan deteksi fluoresensi dari gelombang cepat. Hasil tes juga tidak terpengaruh oleh kondisi lain seperti HIV, dan kanker. TB Breathalyser dapat mendeteksi stage awal TB sebelum tes dahak/rontgen, dengan sensitifitas dan spesifisitas hingga >95%. Batas deteksinya diperkirakan mencapai 25-75 bacilli. Tesnya juga cepat, non invasif, dan mudah digunakan. Yang menarik, alat ini portabel, tidak memerlukan listrik sehingga dapat digunakan di pedesaan. Lebih lanjut, TB Breathalyser dapat mendiagnosa pasien yang tidak menghasilkan dahak.

Wah, menarik sekali, bukan? Dengan berbagai keunggulan di atas, apakah Indonesia tidak mau membeli TB Breathalyser? Atau ada kendala lain yang menjadi alasan?

Perkenalkan, TB DeCare: Teknologi Deteksi TB Asli Indonesia

Saya pun penasaran, apakah ada rapid test yang dibuat oleh peneliti asli Indonesia? Ternyata ada! Seorang putra bangsa yang bernama Dewi Aisyah bersama timnya (Garuda45) telah meluncurkan alat diagnosa TB yang disebut sebagai TB DeCare. Dewi (mahasiswa doktoral dalam bidang epidemiologi penyakit menular) bersama teman-temannya (Ahmad Ataka dan Yani Viryawan untuk bidang Robotika; Ali Akbar dalam bidang Artificial Intelligence; Muhammad Rezki dalam bidang Cyber Security dan Privacy) yang sedang mengambil gelar doktoral di Inggris membuat alat ini dengan tujuan meningkatkan sensitifitas dalam pemeriksaan dahak pasien hingga 90%.

Sesuai dengan fakta yang saya jabarkan di atas, tingkat kepekaan alat pendeteksi TB di Indonesia memang masih rendah, sehingga banyak pasien yang tidak terdeteksi TB. Tingginya pasien yang sebenarnya terinfeksi TB tapi tidak terdiagnosa, tentu saja meningkatkan jumlah penularan.

TB DeCare sendiri menggunakan pengelolaan citra digital dari dahak pasien. Nah, gambar pada dahak inilah yang nantinya digunakan untuk mengecek jumlah bakteri TB.

Dewi berharap, dengan adanya TB DeCare, pasien yang memang terinfeksi kuman TB dapat terdiagnosa positif sehingga pengobatan juga dapat dilakukan lebih cepat. Alat pemeriksaan yang lebih akurat dengan kepekaan hingga 95% (masih berupa prediksi hasil) menjadi nilai lebih dari TB DeCare.

tb decare

Dewi bersama Tim Garuda45 juga mengembangkan mikroskop yang mudah dibawa untuk menganalisa dahak agar TB DeCare dapat digunakan di daerah terpencil. Mikroskop ini akan dihubungkan dengan smartphone yang fungsinya untuk memperbesar gambar dahak yang diteliti. Selain itu, pemeriksaan manual yang biasanya dilakukan oleh laboran akan digantikan oleh mesin sehingga tingkat akurasinya lebih tinggi. Jadi, hasil akhirnya berupa jumlah bakteri dan status negatif atau positif untuk setiap pasien.

Berdasarkan berita pada November 2017, Tim Garuda sedang melakukan penelitian untuk menguji spesifisitas dan sensitivitas TB DeCare menggunakan sampel dari pasien TB di Surabaya. Kelemahan TB DeCare adalah belum dapat mendeteksi resistensi obat pada pasien. Meski demikian, Dewi dan Tim Garuda45 optimis karena TB DeCare terhubung dengan sistem monitoring pengobatan digital sehingga dokter dapat memasukkan jadwal minum obat, jadwal kunjungan, serta jadwal pengambilan obat yang terhubung dengan sistem pengingat otomatis. Dengan sistem ini, tenaga kesehatan juga dapat memasukkan informasi terkait evaluasi pengobatan pasien TB. Bahkan PMO (Pendamping Minum Obat) dapat mengakses informasi tersebut sehingga diharapkan dapat meningkatkan kepatuhan terapi. Ada forum konsultasi dengan tenaga kesehatan juga lho dalam aplikasi mobile -nya.

Bila memang TB DeCare terbukti dapat meningkatkan akurasi diagnosa hingga 95% pada uji klinis pasien di Surabaya, maka PR pemerintah adalah pendanaan agar TB DeCare agar dapat diproduksi massal. Sayang bila penelitian sebagus ini terhenti di tengah jalan hanya karena biaya. Apalagi TB DeCare juga berinovasi dalam hal kepatuhan obat. Dimana kepatuhan obat juga merupakan masalah dalam eliminasi TB di Indonesia.

Saya teringat saat praktek konseling obat di salah satu puskesmas di Jogja. Kala itu, seorang pria setengah baya memasuki ruang konseling. Di rekam medis tertulis pasien TB, dan setelah digali terungkap bahwa bapak tersebut sudah berkali-kali putus obat. Alasannya simpel, beliau mengaku berprofesi sebagai seorang sopir bus jarak jauh sehingga ketika obat habis, beliau sedang tidak berada di Yogyakarta. Hmm, saya sih geleng-geleng kepala. Alasan yang menurut saya dibuat-buat dan bisa dicari solusinya. Dugaan saya, pasien tidak patuh minum obat karena merasa sudah sembuh, gejala sudah hilang. Baru deh ketika gejala muncul lagi, beliau mendatangi puskesmas.

Puskesmas bukan tidak peduli dengan hal tersebut. Program mendatangi pasien TB yang putus obat tentu sudah berjalan. Tapi begitulah masyarakat kita, tidak tahu/ tidak paham bila TB adalah penyakit mematikan. Jika TB DeCare dapat mengatasi masalah kepatuhan obat, tentu saja kita harus mendukungnya.

Dewi bersama Tim Garuda45 juga sudah memiliki rencana pengembangan TB DeCare baik dalam hal penambahan fungsi bright field dan fluorescence dalam mikroskop, maupun pewarnaan sampel dahak dengan staining Ziehl Nielsen dan Auramine. Untuk mikroskop juga aka nada inovasi yaitu berupa penggeser preparat otomatis, dan sumber energi berupa baterai atau charger. Wah, pengembangan TB DeCare tentu membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, besar harapan saya agar Puspitek dapat berperan aktif untuk menyukseskan teknologi TB DeCare sebagai inovasi anak bangsa.

Sebagai seorang dengan latar belakang farmasi klinik, penyakit TB di Indonesia berada dalam kondisi genting. Indonesia berada pada urutan kedua dengan kasus TB di dunia, adalah bukti bahwa pemutusan rantai kuman TB belum berhasil.

Berdasarkan laporan WHO, insiden TB menurun rata-rata 1,5% per tahunnya sejak tahun 2000. Penurunan tersebut perlu dipercepat hingga 4-5% per tahun agar strategi bebas TB pada tahun 2020 dari WHO bisa tercapai. Dengan kata lain, terdapat penurunan sebanyak 35% pada kematian akibat TB, dan penurunan 20% pada insiden/ kasus TB, dibandingkan dengan tahun 2015. Salah satu target kesehatan dalam Sustainable Development Goals adalah berakhirnya epidemik TB pada tahun 2030. Sudah saatnya Indonesia memfokuskan diri dalam bidang inovasi teknologi sebagai salah satu strategi untuk mengeliminasi TB. Selain kepatuhan pengobatan, teknologi deteksi TB yang cepat dan akurat, adalah kunci Indonesia bebas TB. Semoga:)

Referensi:

WHO Key Facts of Tuberculosis. 16 February 2018. www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/tuberculosis

Tuberkulosis, Temukan Obati Sampai Sembuh. InfoDATIN (Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI). ISSN 2442-7659.

A TB Breath Test to Tackle A Worldwide TB Epidemic, www.rapidbiosensor.com/tbbreathalyser.asp

Temuan Signifikan Untuk Pemberantasan Tuberkulosis. 27 April 2017. www.lpdp.kemenkeu.go.id/temuan-signifikan-untuk-pemberantasan-tuberkulosis

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.