Penggunaan Obat Diabetes Saat Puasa

obat diabetes saat puasa

Seperti kisah yang saya sampaikan di sini, puasa dapat mempengaruhi fisiologi tubuh. Mulai dari jumlah cairan, hingga kadar gula di dalam darah. Fakta ilmiah membuktikan, pasien diabetes yang menjalankan puasa Ramadhan justru dapat membaik kesehatannya. Dengan catatan tetap berkonsultasi dengan dokter, diikuti manajemen pengobatan yang tepat.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan di Pubmed (2004) terhadap 13 negara menyatakan bahwa 86% pasien dengan diabetes tipe 2 dan 43% pasien diabetes tipe 1 memilih berpuasa selama bulan Ramadhan. Hasil review literatur di tahun 2017, menemukan bahwa puasa memungkinkan dijalani oleh pasien diabetes, sekalipun pasien tersebut tergantung dengan insulin.

Beberapa penelitian juga mengatakan bahwa pasien diabetes yang mengubah sendiri dosis obatnya, lebih mudah mengalami hipoglikemi berat. Sementara pasien diabetes tipe 2 yang teredukasi tentang puasa Ramadhan justru dapat turun berat badannya, membaik kontrol gula darahnya, dan terhindar dari hipoglikemi berat.

The International Journal of Ramadan Fasting Research merekomendasikan guideline bagi profesional di bidang kesehatan untuk merawat pasien muslim dengan diabetes, yaitu: ” Pasien diabetes yang terkontrol dengan diet boleh berpuasa dan diharapkan dengan penurunan berat badan, diabetesnya akan membaik. Penderita diabetes yang mengonsumsi agen hipoglikemik oral bersama dengan kontrol diet harus sangat berhati-hati jika mereka memutuskan untuk berpuasa. Pasien-pasien ini harus berkonsultasi dengan dokter yang merawat untuk penyesuaian dosis. Jika mengalami gejala gula darah rendah (hipoglikemi) di siang hari, maka puasanya harus segera diakhiri.”

Yang disebut sebagai hipoglikemi adalah jika kadar glukosa darah < 70 mg/dL, atau kadar glukosa darah < 80 mg/dL dengan gejala klinis. Gejala yang dimaksud antara lain mual, pandangan berkunang-kunang, badan lemas, gemetar, keringat dingin, bahkan bisa pingsan.

Pasien diabetes dengan hipoglikemi harus segera diberi makanan/minuman manis seperti gula murni 2 sendok makan, air gula, teh manis, permen (yang mengandung gula murni, bukan pemanis pengganti gula/gula diabet) dan makanan yang mengandung karbohidrat. Itu artinya pasien harus segera berbuka puasa. Jika pasien tidak sadarkan diri, maka harus segera dilarikan di rumah sakit untuk mendapatkan infus dextrosa (gula).

Selain itu, pasien diabetes yang mengonsumsi insulin harus berkonsultasi dengan dokter untuk melihat apakah dosis obat dapat disesuaikan untuk memungkinkan puasa selama Ramadhan. Untuk semua pasien diabetes yang berpuasa, kadar gula darah harus dimonitor secara ketat, terutama sebelum dan sesudah makan.

Dosis obat yang tidak disesuaikan, dan kurang ketatnya monitoring kadar gula darah, dapat mengakibatkan hipoglikemi seperti pada pasien yang rekam medisnya saya baca. Penting bagi keluarga pasien untuk mengawasi keadaan pasien diabetes ketika sedang berpuasa.

Untuk rekomendasi regimen penggunaan obat antidiabetes saya kutipkan langsung dari tulisan dosen farmakologi saya ya.

“Obat golongan sulfonilurea seperti glibenklamid, gliklazid, dan glimepirid memiliki risiko efek samping hipoglikemi yang besar, sehingga kurang direkomendasikan bagi pasien diabetes. Sebagai gantinya, pasien dapat menggunakan metformin 3x sehari, yang pada saat puasa harus diminum 2 dosis pada saat buka puasa dan satu dosis pada saat sahur. Obat semacam acarbose juga relatif aman untuk penderita diabetes, karena kurang menyebabkan hipoglikemi.

Pasien yang tetap menggunakan obat golongan sulfonilurea 2x sehari sebaiknya meminumnya saat buka puasa sebelum makan. Sedangkan untuk yang 2x sehari, maka obat diminum satu dosis pada saat buka puasa dan setengah dosis pada saat sahur. Namun demikian ada pula ahli yang menyarankan untuk tidak mengkonsumsi obat pada saat sahur karena dikuatirkan mengalami hipoglikemi jika pasien berpuasa.

Pada pasien yang menggunakan insulin premix atau aksi sedang 2 kali sehari, perlu dipertimbangkan perubahan ke insulin aksi panjang atau sedang pada sore hari dan insulin aksi pendek bersama makan. Gunakan dosis biasa pada saat berbuka dan setengah dosis pada saat sahur. Usahakan banyak minum pada saat tidak berpuasa untuk menghindari dehidrasi.

Pemantauan kadar gula sebaiknya dilakukan lebih kerap dari biasanya. Jika kadar gula turun di bawah 60 mg/dL, pasien disarankan segera berbuka puasa. Juga jika kadar gula terlalu tinggi (> 300 mg/dL), pasien disarankan tidak berpuasa.”

Referensi :
Kelly Grindrod, BScPharm, ACPR, PharmD, MSc and Wasem Alsabbagh, BScPharm, PhD. Managing medications during Ramadan fasting. Can Pharm J (Ott). 2017 May-Jun; 150(3): 146–149. Published online 2017 Apr 3. doi: 10.1177/1715163517700840

Saghir Akhtar, PhD, MRPharmS. Fasting during Ramadan: a Muslim pharmacist’s perspective. 10 November 2001. The Pharmaceutical Journal Vol 267 No 7173 p691-692

Ikawati, Zulliez. Bagaimana Cara Menggunakan Obat di Bulan Ramadhan. 1 Juli 2014. https://zulliesikawati.wordpress.com/2014/07/01/bagaimana-cara-menggunakan-obat-di-bulan-ramadhan/

Advertisements

One thought on “Penggunaan Obat Diabetes Saat Puasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.